Model pembelajaran discovery learning
Ditinjau dari arti katanya, “discover ” berarti menemukan dan “discovery” adalah penemuan
(Ahmadi,1997:76). Robert B (dalam Ahmadi, 1997:76) menyatakan bahwa “ discovery adalah proses mental dimana anak/individu mengasimilasi konsep dan prinsip”.
Jadi seorang peserta didik dikatakan melakukan“discovery” bila anak terlihat menggunakan prosesmentalnya
dalam usaha menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip.
Proses-proses mental yang dilakukan,misalnya
mengamati, menggolongkan, mengukur,menduga dan mengambil kesimpulan.
Metode penemuan (discovery) diartikan sebagai suatu prosedur
mengajar yang memetingkan pengajaran
perseorangan, manipulasi objek, dan lain-lain percobaan, sebelum sampai kepada generalisasi.
Sebelum peserta didik sadar akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata
(Suryosubroto, 2002). Dalam kaitannya dengan
pendidikan, Oemar Malik (dalam Takdir, 2012) menyatakan bahwa discovery adalah proses pembelajaran
yang menitikberatkan pada mental
intelektual pada peserta didik dalam memecahkan berbagai persoalan yang
dihadapi, sehingga menemukan suatu konsep yang dapat diterapkan di lapangan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa discovery merupakansuatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan
pandangan konstruktivisme.
Pemilihan
model discovery learning memerlukan persyaratan pendukung untuk
mereduksi kelemahan yang sering ditemukan, adapun persyaratan tersebut
dituliskan dalam pengembanagan RPP pada Kurikulum 2013 antara lain: 1) Secara
klasikal peserta didik memiliki kecerdasan/kecakapan awal yang lebih dengan
keterampilan berbicara dan menulis yang baik, yang kurang pandai akan mengalami kesulitan untuk
mengabstraksi, berpikir atau mengungkapkan hubungan antar konsep-konsep.
Dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan frustasi dalam belajar; 2)
Jumlah tidak terlalu banyak (idealnya
maksimal 32), karena untuk mengelola jumlah
yang banyak membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan
teori atau pemecahan masalah lainnya; 3) Pemilihan materi dengan kompetensi
dominan pada aspek pemahaman; 4) fasilitas memadai seperti media, alat dan
sumber belajar (Takdir, 2012).
Menurut
Qoriah (2011) langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran model discovery learning yaitu Menentukan
tujuan pembelajaran; 1) Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik
(kemampuan awal, minat, gaya belajar,
dan sebagainya); 2) Memilih materi pelajaran; 3) Menentukan topik-topik yang
harus dipelajari peserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi); 4) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang
berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas
dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik; 5) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke
kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai
ke simbolik; 6) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Discovery Learning
Menurut Afendi (2012) ada enam langkah pembelajaran discovery learning yaitu : 1) Menciptakan
stimulus/rangsangan (Stimulation)
yaitu
kegiatan
penciptaan stimulus dilakukan pada saat peserta didik melakukan aktivitas
mengamati fakta atau fenomena dengan cara melihat, mendengar, membaca, atau
menyimak. Fakta yang disediakan dimulai dari yang sederhana hingga fakta atau
femomena yang menimbulkan kontroversi. Misalnya dalam mata pelajaran Fisika, peserta
didik diminta untuk mengamati fakta tentang benda elastis dan plastis yang
karakteristiknya jelas berbeda, kemudian diberikan fakta lain dimana batas
kedua fakta itu menjadi tidak jelas dan mengundang kontroversi seperti
penggaris kayu yang semula elastis menjadi plastis (patah). Dengan demikian peserta
didik tergugah untuk mencaritahu lebih lanjut tentang fakta/fenomena
tersebut.Tahapan ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan
perhatian, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan
PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar
lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini
berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan
dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner
memberikan contoh stimulasi dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan peserta didik pada
kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus
menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus agar tujuan mengaktifkan peserta
didik untuk mengeksplorasi dapat tercapai., 2) Menyiapkan pernyataan masalah (Problem Statement), adapun setelah
dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang
relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan
dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atau opini atas pertanyaan masalah)
(Syah 2004:244). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya dirumuskan dalam
bentuk pertanyaan atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi dan
menganalisis permasasalahan yang dihadapi merupakan teknik yang berguna agar
mereka terbiasa menemukan suatu masalah., 3) Mengumpulkan
data (Data Collecting). Ketika eksplorasi
berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan dalam rangka membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
(Syah, 2004:244). Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk
mengumpulkan (collection) berbagai
informasi yang relevan, melalui berbagai cara, misalnya membaca literatur,
mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan
sebagainya. Manfaat dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif
untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi,
sehingga secara alamiah peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan
yang telah dimiliki., 4) Mengolah data (Data
Processing). Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan
mengolah data dan informasi yang telah diperoleh peserta didik baik melalui
wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil
bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak,
diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu
serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Dimyanti, 2002:22).
Pengolahan data disebut juga dengan pengkodean (coding) atau kategorisasi
yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi
tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif
jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis., 5) Memverifikasi data (Verrification). Pada tahap ini peserta
didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya
hipotesis yang ditetapkan sebelumnya
dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing
(Syah, 2004: 244). Verification menurut Bruner, proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan
data dan tafsiran terhadap data, kemudian dikaitkan dengan hipotesis, maka akan
terjawab apakah hipotesis tersebut
terbukti atau tidak.,6) Menarik kesimpulan (Generalisation). Tahap
generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang
dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004: 244). Berdasarkan
hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta
didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya
penguasaan materi pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang
luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan
dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

إرسال تعليق